Wednesday, June 6, 2007

Gerbang Otomatis

Minggu ini ITB melakukan uji coba penggunaan gerbang otomatis. Yang dimaksud gerbang otomatis adalah portal elektronik yang bisa dibuka dengan menggunakan kartu dosen atau pegawai yang sudah didisain untuk itu. Apa istimewanya? Teknologinya biasa aja, bahkan scannernya dibuat oleh dosen dan mahasiswa (elektro) ITB. Tidak ada yang istimewa, kecuali sosialisasi yang kelihatannya masih kurang. Perubahan sistem seperti ini seperti biasa akan menimbulkan banyak komplen.
Parkir kendaraan, merupakan masalah pelik untuk ITB yang memiliki kampus dengan lahan terbatas. Sudah lama ITB membatasi kendaraan masuk kampus hanya untuk yang memiliki sticker parkir saja yang boleh masuk. Sistem sticker ini diterapkan dengan ketentuan, setiap dosen akan mendapat jatah satu sticker dengan biaya tertentu. Jika ingin sticker ke dua, (buat yang memiliki mobil lebih dari satu maka sticker kedua akan dicharge mahal sekali. Kendati demikian, masih banyak dosen atau karyawan yang minta sticker kedua. Jadi masih banyak persoalan yang dihadapi, karena kemudian ketertiban dalam kampus sulit diatur dan masih sering terjadi pencurian kendaraan dari dalam kampus. Persoalan lain yang dihadapi adalah terbatasnya jumlah satpam yang bertugas menjaga kampus. Akhir tahun 2006 ITB melakukan razia kendaraan bermotor. Semua mobil dan motor diperiksa.


Pertama, keresahan yang muncul di pegawai yang non PNS, karena tidak mendapatkan kartu identitas yang dapat digunakan untuk tanda masuk gerbang otomatis ini.

Politikus

Situasi seperti apa yang paling disukai oleh politikus? Ada banyak kondisi di mana seorang hiu politis berbahagia, antara lain situasi di mana aturan tidak jelas. Dalam situasi ini, terjadilah manuver manuver politik yang bisa dilancarkan seekor hiu. Bahkan aturan adapun, seorang hiu politik akan mencari celah yang bisa dilewatinya. Di tengah-tengah ketidak jelasan seorang hiu akan melancarkan jurus-jurus yang akan menciptakan ketergantungan kepada dirinya. .to be continued

Power and Politics.

Rapat melontarkan issue tentang matakuliah power and politic. Apakah matakuliah ini akan dihilangkan dan digabung ke matakuliah strategi? Atau tetap power and politic saja.
Pertanyaan yang mencuat adalah mengapa harus dihilangkan? Salah satu alasan utama adalah tidak ada yang mengajar. Alasan lain adalah matakuliah ini sebetulnya dirancang untuk memasukkan wawasan politik negara. Dua alasan ini tidak pas sebetulnya. Haruskah sebuah matakuliah dihilangkan karena tidak ada dosennya? Tidak bisakan sbm mengusahakan atau membina dosen yang mengajarnya? Ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan, mempertimbangkan kurikulum sbm. Pertanyaan yang paling dasar: apakah yang dimaksud dengan power and politic? Apa perlunya kuliah ini masuk ke kurikulum sbm?
Jika power and politic yang dimaksudkan adalah power dan politic di tingkat nasional, seperti apa rancangan kuliahnya? Hukum ketatanegaraan Indonesia? UUD45 dan Pancasila? Bagaimana konstelasi kekuasaan dan penerapan kekuasaan di Indonesia? Lantas apa pengaruhnya kepada bisnis? Apa tidak lebih baik kalau sksnya digunakan untuk memperbesar sks Ekonomi. Sehingga di kuliah ekonomi, bisa dibahas ekonomi mikro dan makro, yang erat kaitannya dengan praktik bisnis.
Lantas apakah office politic tidak perlu diajarkan? Positifnya, jika hal ini diajarkan, digabung dengan etika, maka kuliah ini membekali mahasiswa untuk menjadi survivor, minimal, di tengah politik usaha yang seringkali dijalankan, tidak harus jadi political shark. Hanya saja memang tidak butuh 4 sks, terlalu banyak. Kuliah ini bisa juga disisipkan di berbagai kuliah people management seperti di Leadership, bagaimana power dan penggunaannya dalam kepemimpinan. Dalam manajemen perubahan juga bisa, bagaimana memanfaatkan power dalam mengelola perubahan. Dalam mata kuliah labor union juga bisa, khusus tentang kaitan hubungan industrial, serikat pekerja dan kekuasaan dan politik kantor. Dalam Komunikasi juga bisa, bagaimana komunikasi dimanfaatkan untuk mempengaruhi orang lain. Dalam OB sendiri bisa diberikan dasar-dasarnya.
Yang lebih penting lagi sebetulnya secara keseluruhan kurikulum sbm itu seperti apa profil bangunannya?

Sunday, June 3, 2007

Tutor: part2. What SBM need from Tutor

Tutor have important roles in SBM. First, they have to guide practical or technical ability of students in a particular course.
There are two type tutors in SBM, part time tutors anda full time tutor. Part time tutor is tutor hired for a specific course and have responsibility around that course, such as:
  • tutoring,
  • assist lecturer in checking student attendance,
  • assist lecturer in preparing course material,
  • assist lecturer in conducting test, examination, and gradin
Full time tutor has two type job, i.e. teaching and learning jobs, research and administration jobs. Full time tutor, have possibility to be a lecturer, if they meet the criteria.
Therefore, addition conditions for full time tutor are writing capability, for writing research report, journal article or case.

What is the criteria of SBM tutor?
There are some factors to be considered to determine the criteria needed for selecting a tutor.
First of all, is SBM values, i.e. ethical values, integrity. So, tutor of SBM have to have high ethical values, and high integrity: honest, opened to themself, and has spirit to excell good ethical values in conduct their class, aligned with the SBM mission to create ethical entrepreneurs. The implication of SBM values, the tutors have to have ability to build students discipline.
Second, as part of SBM education system, lecturing and tutoring will be held in English and learning activities mostly done to promote action learning in group and as experience based learning. The implication to tutor requirements are: tutor have to speak English fluently, able to promote good team environment, assure that all team member share their knowledge and got lesson learned from their learning activities. Tutors themself have to work in team (one of faculty member remind me about this, she denied a tutor to be in her team because the tutor too ambitious to make herself mor valuable compare to other tutors; it is about make all the students got equal treatment)...to be continued

Empty Nest Syndrome

Ieu meureun nu disebut empty nest syndrome teh. Hulang-huleng we, asa teu puguh laku. Di imah ngan duaan. Rek gawe hoream rek masak hoream. Naon lah ngan ngotoran dapur we wungkul, masak keur duaan. Jadi rus ras, asa loba nu laleungitan. Jadi ngarasa kolot ayeuna mah. Ehm... Sakeudeung deui nu bungsu lulus, moal lila deui pasti neangan gawe. Imah pasti kosong, tinggal duaan we, tilu jeung pembantu meureun. Pola kahirupan jigana geus kudu dirobah.
Atuda lucu tadi mah, ka toko duaan. Salaki kalah hulang huleng dititah pesen dahar teh. Naon nya, cenah. Karunya oge. Kukurilingan di Giant, sakeudeung ge geus capek. Kabayang we engke kudu ngajar di Chevron atawa Freeport, sapoe jeput. Kuat kitu nangtung ti jam 8 nepi ka jam 5 sore? Duka atuh kumaha engke we. Hehehe...biasanya urang Sunda mah cenah sok ngomong kumaha engke ari nanaon teh.
Naha pola kudu dirobah? Sok we geura, balanja geus biasa loba, ayeuna kudu dikurangan. Eusi kulkas teu orot-orot. Eusi kulkas kudu dirobah nu gampang diolah tapi tetep sehat. Parabot mun aya mah nu garampang we. Madato? keur naon Madato saha nu reuk make. Pantes atuh nyulam, hakken disebut hobby nini-nini, da memang pantes. Kahiji teu butuh tanaga gede jiga ngebon, kadua memang bisa dipigawe bari mikiran sagala rupa. Cag heula.

Wednesday, May 30, 2007

Hero or Looser

Siang itu aku terperangkap di tengah pertengkaran dua kolegaku. Ingin menghindar tapi kok tidak enak ya. Juga sedikit penasaran dengan apa yang dipertengkarkan mereka. Apa pasal? Ternyata ini persoalan lama yang menumpuk yang buntutnya berakhir pada perang argumentasi dan tuduhan ini. Yang satu merasa sudah membantu yang lain merasa justru dihambat, dan baru diselesaikan persoalannya pada saat yang sudah sangat mendesak. Kalau dirunut lebih jauh beberapa hal yang aku tangkap dari pertengkaran ini adalah:
Pihak program studi merasa tidak dibantu sama sekali selama ini, karena tidak ada kebijakan dan prosedur tertulis yang bisa dijadikan pegangan sehingga prodi tidak tahu apa yang harus dilakukan untuk mengusulkan pencairan dana untuk berbagai kegiatan. Di samping itu prodi juga merasa seringkali melakukan pekerjaan yang bukan pekerjaannya. Tapi, demi kelancaran operasi akademik terpaksa menjalankan tugas tersebut. Sehingga mereka berpikir, kenapa gak jadi departemen aja kalau begitu.
Pihak administrasi merasa, program studi seringkali mengusulkan anggaran yangt idak jelas dan mepet waktunya, sehingga menyulitkan. Masalahnya prosedur pengajuan dana itu panjang. Selain itu seringkali kalau ada komplain, program studi seringkali langsung protes atau memarahi bawahan pengelola administrasi ini, dan membuat stress. jadi permintaan wds adalah kalau ada komplen jangan langsung ke bawah dong.
Ok kata prodi kalau ada jam rusak maka saya akan ke wds. Bener gitu harus begitu? Alasannya adalah itu hal krusial bagi program studi. Misalnya jam rusak harus segera dibetulkan karena ada kaitannya dengan perhitungan keterlambatan mahasiswa yang datang.

Kelihatannya ada yang tidak beres dalam organisasi kerja SBM. Bagaimana mekanisme dan SOP yang perlu dijalani dalam mengurus aktivitas dari sejak klien, program studi, keuangan, sdm, dst.

Aku tercenung lama setelah itu...apa masalahnya? Kurang percaya? kurang kerjasama? masihkah kita dalam satu tim? terlalu banyak aktivitas sehingga tidak sempat menjalin hubungan baik dengan anggota tim yang lain? Bahaya sekali. Saya jadi ingat ketika anak anak masih kecil. Setiap bulan, kami menengok orangtuaku di Garut. Dengan dua anak masih kecil tidak heran kalau bawaan kami seabreg. Di sana boro boro sempat nyuci, kalaupun sempat nyuci hanya pakaian yang memang tidak bisa ditunda nyucinya, seperti pakaian anak-anak, yang tidak mungkin dibawa pulang dalam situasi kotor. Jadilah, kesibukan tersendiri ketika kembali ke rumah. Cucian harus dipisahkan. Barang-barang dibereskan kembali ke tempatnya. Masak untuk sore atau malam itu. Nyimpen oleh oleh ke lemari atau kulkas, dsb dsb. Anal-anak juga rewel kecapean. Badan sendiri, capek pula. Dalam situasi ini kalau tidak sadar, maka pertengkaran seringkali muncul tanpa disadari. Apakah situasi sbm sudah seperti ini? Semua sudah drawn in their job sehingga toleransi menjadi sangat rendah? Atau sudah hilangkah saling percaya antar anggota tim sehingga saling mencurigai? There is not any teamwork anymore. Semua ingin sendiri sendiri. Semua memikirkan KPI nya sendiri, kalau ada KPI. Semua mikirnya pokoknya pekerjaanku harus beres. Salah? Tidak juga. Yang salah barangkali bagaimana mencapai tujuan bersama dan bagaimana orang dihargai secara memadai, berkarya langsung atau tidak. Jika pujian selalu hanya ditujukan kepada seseorang, padahal ini hasil kerja tim, maka masuk akal saja jika yang satu merasa tidak memiliki hasil akhir. Cag!

Tuesday, May 29, 2007

Sepatu butut Ayu

Hari ini hari kedua Ayu di KL. Kemarin dia lapor kalau sepatunya rawing. Rawing? Gimana sih maksud rawing. Di sini, aku ngebayangin dia terpincang-pincang di tengah 20 temannya berjalan dari satu tempat ke tempat lain...ehmmm...melas sekali. Aku tanya lewat sms, jadi kamu sekarang jalan terpincang pincang dong ya. Oh enggak bu, cuma sepatuku seperti dimakan rayap, gitu, katanya, malu aja bu. ooohhh...gitu toh..Yang mana sih sepatu yang kamu bawa...Yang everbest katanya..Wah..itu kan bukan sepatu murahan. Tadinya kubayangkan yang dibawanya sepatu murahan jadi dibawa jalan sebentar aja sudah rusak. Bisa kubayangkan bagaimana bete nya dia. Dari sini, aku cuma bisa berharap, dia mengatasi semua perasaan itu, itu lebih penting, ketimbang kondisi sepatu butut itu sendiri. Semoga berbagai hambatan yang dihadapi di sana menjadi pelajaran berharga buat dia. Itu lebih penting daripada hanya menjadi kekecewaan saja.
Malamnya sambil terkantuk-kantuk kutunggu lanjutan smsnya. Gak sabar ku sms dia, tanya tentang nasib sepatunya. Sudah beli bu yang diskonan, katanya. Hahaha, diskonan...
Dari perjalanan ini dia juga dia bisa mendapat tambahan pelajaran, yang mana yang bener-bener teman, yang bagaimana yang bener-bener saudara, bagaimana hidup ini harus disyukuri. Dan yang paling penting aku merasakan betapa berharganya anak-anakku bagiku. Ada kekosongan besar yang kurasakan saat mereka berjauhan denganku. Klise?. Tapi itulah kenyataannya.