Here it come, matakuliah yang paling tak kumengerti. Manajemen Strategik. Bukannya gak suka, cuma saja setiap kali ngomong stratejik langsung yang kepikiran adalah "duuuhhh ini sih mesti terawang menerawang ke masa datang atau ke sesuatu yang bersifat makro". Bicara stratejik kan selalu bicara tentang masa datang dan jangka panjang. Maklum, aku cuma punya pikiran pendek. Nah ini dia yang dikupas juga oleh Pak Setiyadi, pengusaha Indonesia cuma 2 % yang bisa bepikir stratejik. Bisa dimaklumi, manusia yang tumbuh di negara tropis seperti Indonesia tidak dituntut berpikir jauh ke depan. Semua mudah kok, ibaratnya nancepin batang aja bisa tumbuh, katanya sih begitu. Jadi inget omongannya Andy Toehig (eh apakabar ya si Andy ini, janji mau ngirim tulisannya) dia bilang begini: "You do not need to work. What for?" Kaget juga dengernya, ya harus lah kerja, kalau enggak mau makan dari mana? Dia bilang lagi. "Life is easy for you" Compare with us, in Canada. If we did not work hard, then we don't have energy and food to survive along winter, we will die in just two days" Pantesan aja dia gak mau balik lagi ke Canada, dingin banget sih di sana. Jadi lingkungan mendorong attitude dan behavior kita berbeda.
Balik lagi ke kuliah Stratejik Manajemen; pak Setiyadi bilang soal self fulfilling prophecy. Ngerti sih itu yang setiap semester aku ajarin ke anak anak. Kira-kira artinya begini kalau kita mikir negatif ya hasilnya negatif, kalau positif ya hasilnya juga positif. Nah, menerapkannya ke diri sendiri, kadang berhasil kadang tidak. Kalau di reiki disebutnya affirmation. Jadi kalau aku gunakan self fulfilling prophecy untuk mendorong minat di manajemen stratejik ini, harusnya bersikap "take it easy, relax, face it" Jadi dalam rangka berusaha mencintai kuliah ini nih, pulang dari Bogor seger kan (soalnya bisa tidur di mobil sampai-sampai tempat makan kelewat saking pulasnya, walhasil malam itu gak makan) aku langsung browsing deh di internet nyari beberapa pengertian seperti strategic fit, strategic thrust, organization capability, organization competence, and so on and so on. Biar di kuliah ke lima (di kuliah ke lima kawan-kawan, jangan lupa, mana kita juga gak tahu kapan kuliah ke lima itu, jadwalnya tak menentu seperti cuaca di Indonesia aja) harus masukkan outline makalah dari salah satu topik. Kupilih topik strategic behavior. Asumsinya aku kan sudah lama nih jadi behaviorist, yaaa...gak jauh jauh lah kali dengan yang sehari hari digarap. Weh ternyata gak begitu jelas, bahan kurang, mau nulis apa ya? Bahkan di buku juga gak ditulis dengan jelas, di wheelen juga gak dibahas sama sekali. Kulihat lagi organization capability....nah ini lumayan. Meskpiun masih tetep rada rada gak jelas. Ini yang di dapat:
1. Konsep organizational capability ini, berkembang dari individual capability. So, karakteristiknya kurang lebih sama, yaitu survive, flexible, etc.
2. elemen yang penting di dalam nya ada yang bilang share mind set, capacity to change, leadership dan management practices
3. Ada juga yang bilang organizational capability itu terdiri dari functional capability, general management capability
4. Kebanyakan artikel membahasnya ke arah HR, Leadership capability dan Knowledge management
Dari sini mulai hilang arah, sepertinya, kalau boleh mendingan memperdalam HR, Leadership capability dan Knowledge Management. Dasarnya, untuk membangun organizational capability people memegang peranan penting. Juga dikaitkan dengan capacity to change.
Halo teman-teman ada yang punya buku berkaitan dengan ini? Susah juga menghilangkan perasaan dan pikiran bahwa kuliah ini "gelap" buatku. Sementara ini buku yang sudah ada adalah Implanting Strategic Management nya Ansoff, Strategic Management and business policy nya wheelen (buku standar yang dipakai SBM)
Sunday, July 15, 2007
Thursday, July 5, 2007
power and politics: again...
Power and politics course becoming debate commodity back? Becoming political commodity. Why?
What is happening? It is just like we want a cake but did not know what kind of cake do we want? And what is the benefit of eating that cake? Is it a child ego or a parent ego? It is just like a child ask something to her/his mommy and make the mommy's headache because could not find what the heck of thing did he/she want? Or, just to make all of us think about what kind of power and politics do we want? I tried to find out what kind of politics do we have to deliver to student? I think the student will find their job and may be build a company (10% of them). At micro level, they will need to find out how is an organization work, what climate do they have at the company, what the structure of power do the have? How to surf office politics to survive. Just to survive; emphasize on performance and communication, not on dirty politics. Once I gave the student a quiz "how political are you". It is interesting because most of them are political survival, only 10 % - 15 % of them are corporate polititian and about 5 % are political shark.
Now, what should they know if they run their own business? They have to know politics at macro level. They have to know what will happening to their company if the economy policy change? They have to know the current regulation and the impact to their company. Or, do they have to know about what is the impact of political party system in Indonesia to their business? I don't know.
What is happening? It is just like we want a cake but did not know what kind of cake do we want? And what is the benefit of eating that cake? Is it a child ego or a parent ego? It is just like a child ask something to her/his mommy and make the mommy's headache because could not find what the heck of thing did he/she want? Or, just to make all of us think about what kind of power and politics do we want? I tried to find out what kind of politics do we have to deliver to student? I think the student will find their job and may be build a company (10% of them). At micro level, they will need to find out how is an organization work, what climate do they have at the company, what the structure of power do the have? How to surf office politics to survive. Just to survive; emphasize on performance and communication, not on dirty politics. Once I gave the student a quiz "how political are you". It is interesting because most of them are political survival, only 10 % - 15 % of them are corporate polititian and about 5 % are political shark.
Now, what should they know if they run their own business? They have to know politics at macro level. They have to know what will happening to their company if the economy policy change? They have to know the current regulation and the impact to their company. Or, do they have to know about what is the impact of political party system in Indonesia to their business? I don't know.
Thursday, June 21, 2007
Bucat bisul
Eta mah istilah urang Sunda mun aya pagawean atawa perkara nu kakara anggeus. Basa Indonesia na mah. Pecah abses hehehe...yang lebih dramatis sih abses meletus kali ya. hahaha....begitulah. Ya...sekarang mulai kerasa ada yang lega...meskipun tadi merasa gak puas dengan kualitas ujian yang dikumpul. Waktu ngejilid saya bilang sama bu Yuni...makanya kalau kasih ujian ke mahasiswa mesti ngukur nih bisa gak diselesaikan dalam waktu yang ditentukan. Sebetulnya sih lima hari cukup lama, untuk yang tidak punya pekerjaan lain selain mahasiswa. Itu persoalan utamanya, sekolah sambil kerja. Siapa suruh sekolah...kata orang-orang...Siapa ya.....teuing atuh. Jadi, jadi dosen itu gak bisa sembarangan aja, diukur...intinya di situ bisakah kita mengukur antara ujian dengan beban kerja.
Ngomong soal ngukur...ada hal lain yang juga perlu diukur. Pagi ini sbm mulai vision and mission revisiting. Kunaon atuh nya, di revisit terus...hehehe. Diskusi hot, masing-masing punya persepsi dan argumentasi tentang apa yang ingin ditampilkan dalam visi misi ini. Yang satu inginnya tinggiii sekali. Di jalan ke sbm (dari Preanger tempat kita rapat nih) saya merenung. Kenapa atuh kita gak pernah apal visi misi selama ini. Pertama tidak ada internalisasi, yang kedua itu tandanya tidak menjadi inspirasi. Bukan untuk dihapal kok. Tapi untuk dihayati. Kalau individu merasa apa yang ada di misi itu terlalu tinggi, sehingga bener-bener seperti mimpi (mimpi lho bukan cita cita) maka ya sudah tinggal mimpi aja. Tidak menjadi inspirasi lagi dong...Memang beda mimpi dengan dream....Kalau kita menginginkan sesuatu kita akan bilang sampai termimpi-mimpi. Tapi kalau kita bilang seperti...ah itu sih cuma mimpi. Artinya sudah beda lagi. Mana yang diinginkan...mimpi atau impian...Memang...bahasa itu memiliki makna mendalam. Sudah dulu ah...nanti diterusin...mau rapat lagi.
Ngomong soal ngukur...ada hal lain yang juga perlu diukur. Pagi ini sbm mulai vision and mission revisiting. Kunaon atuh nya, di revisit terus...hehehe. Diskusi hot, masing-masing punya persepsi dan argumentasi tentang apa yang ingin ditampilkan dalam visi misi ini. Yang satu inginnya tinggiii sekali. Di jalan ke sbm (dari Preanger tempat kita rapat nih) saya merenung. Kenapa atuh kita gak pernah apal visi misi selama ini. Pertama tidak ada internalisasi, yang kedua itu tandanya tidak menjadi inspirasi. Bukan untuk dihapal kok. Tapi untuk dihayati. Kalau individu merasa apa yang ada di misi itu terlalu tinggi, sehingga bener-bener seperti mimpi (mimpi lho bukan cita cita) maka ya sudah tinggal mimpi aja. Tidak menjadi inspirasi lagi dong...Memang beda mimpi dengan dream....Kalau kita menginginkan sesuatu kita akan bilang sampai termimpi-mimpi. Tapi kalau kita bilang seperti...ah itu sih cuma mimpi. Artinya sudah beda lagi. Mana yang diinginkan...mimpi atau impian...Memang...bahasa itu memiliki makna mendalam. Sudah dulu ah...nanti diterusin...mau rapat lagi.
Wednesday, June 13, 2007
PR
What is Culture? What is Value? Personal Value? Personal Trait? Performance?
Relationship between Culture, Personal Value, Personal Trait and Performance?
Relationship between Culture, Personal Value, Personal Trait and Performance?
Tuesday, June 12, 2007
Standar Nilai
Killer...itu pasti sebutan mahasiswaku. Hari ini yang komplen banyak sekali. Kenapa aku dapat C? Kenapa kelas B lebih murah hati dosennya? Kenapa aku dapat lebih jelek dari si anu yang tidak aktif di kerja sindikat. dsb.dsb. Sudah adilkah penilaian ibu? Kalau gak kena plagiarism, mestinya aku kan dapat A.
Ha?Aku bilang tanya deh diri sendiri, kalau sekarang dapat A, kemudian nanti kerja di bidang ini, bisa memberikan hasil sekualitas A enggak? Bagaimana kalau orang nanya, MBA ITB kasih nilai A padahal gak bisa kerja? Wah...berat tanggungjawab sosialnya.
Kedua kalau aku minta peer evaluation, pasti kamu gak akan bisa objective deh. Pasti temen kamu yang free rider juga akan kamu kasih nilai bagus. Capek deh.
Pertanyaannya, perlukah ada standar penilaian agar dosen memberikan penilaian yang lebih adil? Apakah betul memberikan nilai kelas semuanya A atau 80% A, sisanya B? Atau mungkin ada dosen yang memberikan nilai semuanya C?
Nilai, mempunyai fungsi mengukur keberhasilan belajar mahasiswa, mengukur keberhasilan mengajar dosen. Karenanya nilai harus adil, di antara mahasiswa yang satu dengan yang lain. Tetapi nilai juga memiliki makna yang berkaitan dengan eksternal SBM. Jika seorang mahasiswa memiliki nilai B maka tentu masyarakat mengharapkan kualitas B juga. Yang seperti apa yang sesuai dengan kualitas B ini, tentu saja faktornya banyak. Termasuk faktor nasib, misalnya ketika satu hari seorang mahasiswa tidak bisa hadir, dan hari itu ada tes, maka "sial" lah mahasiswa tersebut. Tapi, kualitas manusia kan tidak hanya ditentukan oleh satu kuliah, di satu masa. Tapi ditentukan oleh banyak faktor di masa yang berbeda. Memang pelik masalahnya.
Ha?Aku bilang tanya deh diri sendiri, kalau sekarang dapat A, kemudian nanti kerja di bidang ini, bisa memberikan hasil sekualitas A enggak? Bagaimana kalau orang nanya, MBA ITB kasih nilai A padahal gak bisa kerja? Wah...berat tanggungjawab sosialnya.
Kedua kalau aku minta peer evaluation, pasti kamu gak akan bisa objective deh. Pasti temen kamu yang free rider juga akan kamu kasih nilai bagus. Capek deh.
Pertanyaannya, perlukah ada standar penilaian agar dosen memberikan penilaian yang lebih adil? Apakah betul memberikan nilai kelas semuanya A atau 80% A, sisanya B? Atau mungkin ada dosen yang memberikan nilai semuanya C?
Nilai, mempunyai fungsi mengukur keberhasilan belajar mahasiswa, mengukur keberhasilan mengajar dosen. Karenanya nilai harus adil, di antara mahasiswa yang satu dengan yang lain. Tetapi nilai juga memiliki makna yang berkaitan dengan eksternal SBM. Jika seorang mahasiswa memiliki nilai B maka tentu masyarakat mengharapkan kualitas B juga. Yang seperti apa yang sesuai dengan kualitas B ini, tentu saja faktornya banyak. Termasuk faktor nasib, misalnya ketika satu hari seorang mahasiswa tidak bisa hadir, dan hari itu ada tes, maka "sial" lah mahasiswa tersebut. Tapi, kualitas manusia kan tidak hanya ditentukan oleh satu kuliah, di satu masa. Tapi ditentukan oleh banyak faktor di masa yang berbeda. Memang pelik masalahnya.
SBM sudah tepatkah ...?
Hari ini kupenuhi undangan Pak Andi Budiman di Chevron untuk menghadiri seminar 4 mahasiswa bimbinganku di MBA. Aku sudah sampai di Budi Kemuliaan jam 10 kurang. Lega juga. soalnya di P Gede sempet kena macet...duhhh...nyarus deh. Malu juga kalau sampai telat. Tidak profesional. Beruntung ada pak Rudi yang mau jadi "joki", berdasi pula, sejak dari bandung.... :=) Nuhuuuunn pisan pak Rudi. Sebelum semuanya siap, sambil nunggu obrolan dengan pak Andi membuat aku mikir juga: pertama, mau jadi apa sih sebetulnya anak sbm? (salah satu putri pak Andi di sbm, sudah semester 6) Wah...mesti jawab apa ya? Jawabanku cuma ...bahwa 10 % dari mereka sudah diterima kerja...surprise juga pak Andi mendengarnya. Ya...ini batu uji pertama bagi SBM. Agustus ini angkatan pertama lulus...bakal jadi apa mereka setelah lulus. Hari ini Ayu juga menjalani tes bank permata bersama 13 temannya yang calon cum laude. Hmmm......semoga aja ...Perbincangan dengan pak Andi berlanjut ke soal, kemungkinan memasukkan pemagang baru...tidak ada yang bisa disimpulkan dari obrolan ini.
Ada beberapa hal yang ditangkap:
1. sebelum mereka magang, dibutuhkan kesiapan mereka sehingga learning process nya tidak terlalu panjang
2. soal bahasa Inggris
3. soal kemampuan komputer
4. ada program lain yang ditawarkan, magang untuk 5 best student, baik MBA maupun S1.
5. untuk s1 SBM masih terlalu melebar, kurang fokus.
Masukan yang berharga, sehingga mungkin bisa menjadi bahan perbaikan di SBM.
Yang paling ideal adalah evaluasi lulusan pertama, dapatkan umpan balik dari para employer mereka, sehingga SBM bisa melakukan perbaikan kurikulum dan konsep pendidikannya.
Terlambat? ...Mungkin ya...tapi memang harus dilakukan...
Umpan balik yang diperoleh dari seminar TA mahasiswaku kelihatannya adalah:
Ganesya, cukup siap dan memuaskan hasil kerjanya. (Ada nuansa politis yang kutangkap dari sana, dampak merger dua budaya yang berbeda).
Bimo, lumayan, dengan diijinkannya menggunakan data periode yang lalu yang memungkinkan dia melanjutkan TA nya, Alhamdulillah kemungkinan dia bisa selesai sebulan lagi kelihatannya bisa dicapai.
Nadya, gak jelas, deliverablenya apa? Di akhir seminar kami rumuskan bahwa Nadya akan membuat survey untuk memperoleh gambaran pelaksanaan PMP saat ini, manual PMP, kurikulum dan bahan trainingnya, termasuk video klip yang menunjukkan demo pelaksanaan PMP.
Wira, rumusan akhirnya, evaluasi implementasi TRIMS dalam proses perencanaan training untuk mengidentifikasi OFI sehingga bisa menurunkan pending training yang sangat besar.
Sepertinya pak Andi kurang puas dengan hasil kerja dua anak ini. Yaaa.....bisa jadi...karena kurang gesit. Dua bulan tidak ada kemajuan berarti....
Menurut Ganesy, memang kurang gesit, sehingga pak Andi minta Ganesy juga membantu mereka. Pesen dari Pak Andi lewat Ganesy, aku boleh ngirim magang baru...tapi aku mesti tes dulu kemampuan mereka untuk analisis dan problem solvingnya.
Ada beberapa hal yang ditangkap:
1. sebelum mereka magang, dibutuhkan kesiapan mereka sehingga learning process nya tidak terlalu panjang
2. soal bahasa Inggris
3. soal kemampuan komputer
4. ada program lain yang ditawarkan, magang untuk 5 best student, baik MBA maupun S1.
5. untuk s1 SBM masih terlalu melebar, kurang fokus.
Masukan yang berharga, sehingga mungkin bisa menjadi bahan perbaikan di SBM.
Yang paling ideal adalah evaluasi lulusan pertama, dapatkan umpan balik dari para employer mereka, sehingga SBM bisa melakukan perbaikan kurikulum dan konsep pendidikannya.
Terlambat? ...Mungkin ya...tapi memang harus dilakukan...
Umpan balik yang diperoleh dari seminar TA mahasiswaku kelihatannya adalah:
Ganesya, cukup siap dan memuaskan hasil kerjanya. (Ada nuansa politis yang kutangkap dari sana, dampak merger dua budaya yang berbeda).
Bimo, lumayan, dengan diijinkannya menggunakan data periode yang lalu yang memungkinkan dia melanjutkan TA nya, Alhamdulillah kemungkinan dia bisa selesai sebulan lagi kelihatannya bisa dicapai.
Nadya, gak jelas, deliverablenya apa? Di akhir seminar kami rumuskan bahwa Nadya akan membuat survey untuk memperoleh gambaran pelaksanaan PMP saat ini, manual PMP, kurikulum dan bahan trainingnya, termasuk video klip yang menunjukkan demo pelaksanaan PMP.
Wira, rumusan akhirnya, evaluasi implementasi TRIMS dalam proses perencanaan training untuk mengidentifikasi OFI sehingga bisa menurunkan pending training yang sangat besar.
Sepertinya pak Andi kurang puas dengan hasil kerja dua anak ini. Yaaa.....bisa jadi...karena kurang gesit. Dua bulan tidak ada kemajuan berarti....
Menurut Ganesy, memang kurang gesit, sehingga pak Andi minta Ganesy juga membantu mereka. Pesen dari Pak Andi lewat Ganesy, aku boleh ngirim magang baru...tapi aku mesti tes dulu kemampuan mereka untuk analisis dan problem solvingnya.
Subscribe to:
Posts (Atom)